Breaking News

Minggu, 02 Juli 2017

Idul Fitri yang Berbeda


Sahabat pembaca yang keren,
Idul Fitri secara etimologis berasal dari kata ‘id yang artinya ”kembali atau terulang” sedangkan fitri dari kata fitrah berarti “sifat pembawaan atau asal kejadian yang suci”. Jadi idul fitri bisa diartikan sebagai hari raya dimana manusia kembali pada pembawaan asal kejadiannya yang suci, kembali pada keadaannya yang autentik, setelah manusia terlena oleh keriuhan dan gemerlapnya kehidupan dunia yang sepenuhnya menipu. Allah di dalam Alqur’an dengan terang memberi peringatan “Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan sendau-gurau belaka”.




Ritual Idul Fitri secara psikologis akan membawa kita semua untuk kembali pada keadaan yang autentik dan meneguhkan kembali identitas kemanusiaan kita dengan saling berkunjung dan bersilaturrahim memperkuat persaudaraan dan memupuk cinta kasih, seperti terlihat pada tradisi mudik lebaran. Idul fitri memperkuat identitas kemanusiaan kita dengan saling menolong terutama kepada yang membutuhkan dan berbagi kebahagiaan melalui pemberian zakat fitrah, zakat maal, THR dan lain sebagainya.

Idul fitri merupakan sebuah tradisi serta budaya khas negara kita yang sekaligus sebagai salah satu cara yang dikembangkan untuk mempertautkan kembali antara hubungan kasih Ilahi dan hubungan kasih kemanusiaan. Inilah puncak kebahagiaan umat islam dan keagungan-Nya. Tradisi ini begitu melekat kuat dalam budaya masyarakat kita serta direfleksikan dalam bentuk keinginan untuk kembali ke pangkuan orang tuanya, rindu saudara, sahabat, handai-taulan dan kawan, serta rindu akan kampung halaman tempat kelahiran. 


Idul fitri di keluarga kami tahun ini sangatlah berbeda serta bertolak belakang dengan apa yang telah kami sampaikan di atas. Sebagaimana yang telah kami tuliskan dalam artikel sebelumnya; yakni Kisah Sepenggal Duka Menjelang Hari Raya, bahwa kami dan keluarga kehilangan Bapak tercinta tepat 3 hari sebelum Idul fitri. Allah telah memanggil bapak tercinta kami pada hari ke-27 di bulan Ramadhan, di bulan yang sangat mulia.

Ritual sungkem saat hari raya Idul Fitri menjadi sangat hampa tanpa bapak, makan bersama tanpa bapak, menikmati libur hari raya tanpa bapak. Sungguh hal yang sangat berbeda di banding tahun-tahun sebelumnya yang penuh kebahagiaan. Rasanya kebahagiaan Idul Fitri tahun ini tidaklah sempurna tanpa Bapak di antara kami, bahkan di tahun-tahun yang akan datang pun akan selalu demikian “Tanpa Bapak”. Kepergian bapak yang begitu tiba-tiba menorehkan luka yang begitu dalam di hati kami. 

Tapi kami sadar, meski tanpa Bapak diantara kami, perjalanan hidup terus berjalan. Bapakpun akan merasa kecewa jika kami terus terlarut dalam kesedihan. Hanya doa yang akan senantiasa kami panjatkan serta selalu  mengalir kepadamu, sebagai bakti kami yang tak akan pernah putus.

Dan tak lupa pula pada kesempatan ini kami sampaikan ucapan terima kasih kami yang tiada terhingga kepada seluruh rekan, sahabat dan semua pihak yang telah turut serta berbela sungkawa serta mengikuti rangkaian prosesi upacara pelepasan dan penghormatan terakhir terhadap bapak. Kami hanya bisa berdoa, semoga semua kebaikan dan ketulusan Bapak dan Ibu mendapat balasan yang melimpah dari Allah swt.
Amin amin ya robbal 'alamin.



Read more ...
Designed Template By Blogger Templates - Powered by BeGeEm